Seorang ibu sudah pasti punya tempat tersendiri di hati anak-anaknya termasuk aku. Ibuku pahlawanku, seorang wanita yang luar biasa yang menaruhkan nyawanya untuk melahirkan aku.
Ibuku merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara. Karena terlahir sebagai anak bungsu, ibuku kecil mungkin termasuk anak yang manja, riwayat kanak-kanaknya yang sering sakit-sakitan membuatnya selalu dilindungi oleh orang tua dan kakak-kakaknya. Bahkan pernah kudengar cerita, nama ibuku sempat diganti karena mitos orang Jawa kalau anak sering sakit-sakitan, itu tanda keberatan nama dan harus diganti nama tersebut. Singkat cerita, setelah selamatan adat Jawa untuk perubahan nama, ibuku kecil tumbuh menjadi gadis desa yang sehat layaknya gadis lain seusianya.
Setelah lulus dari sekolah kejuruan jurusan ilmu dagang, ibuku muda membulat hati merantau ke kota Bandung, ikut salah satu famili kami dan bekerja di salah satu pabrik tekstil di kota Bandung.
Pengalaman ikut orang tentu tidak seenak ikut orang tua sendiri, beliau yang dirumahnya selalu di manja oleh orang-orang di keluarga nya kini sebelum bekerja beliau harus mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari keluarga yang ditumpanginya. Jalan yang licin dan mendaki tiap hari harus dilewati pagi dan sore. Tentu saja ini tidak mudah, tapi beliau ikhlas menjalaninya.
Berbekal gaji pertama yang dimiliki, ibuku muda memutuskan untuk mengontrak sepetak kamar bersama teman kerjanya. Di tempat yang baru inilah cerita cinta dengan bapakku dimulai.
Ibuku muda mengenal bapakku muda lewat temannya, berdasar pada kesamaan kampung halaman membuat mereka berdua memiliki chemistry dan akhirnya memutuskan jalinan cinta mereka dibawa menuju jenjang pernikahan. Dan setelah resmi menikah, mereka pun akhirnya memutuskan untuk mengontrak sepetak rumah di pinggiran rel kereta api.
Setelah 2 bulan pernikahan, akhirnya ibuku muda dinyatakan positif mengandung aku, saat itu beliau masih bekerja di pabrik tekstil. Perutnya yang makin lama makin besar tentu saja menghambat dalam pekerjaannya, apalagi saat beliau harus kerja shift malam ibuku muda harus menyusuri rel kereta api untuk berangkat kerja ditemani suami siaga yang setia menemani. Tak jarang kala Badan tidak bersahabat, ibuku muda setelah setengah jalan memutuskan untuk balik kanan dan membolos bekerja.
Hingga waktunya hari persalinan tiba, ibuku mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan aku ke dunia ini di salah satu rumah sakit swasta di kota Bandung. Dengan sisa cuti melahirkan yang dimiliki ibuku muda belajar menjadi seorang ibu baru didampingi oleh nenekku yang datang jauh-jauh dari Jawa Tengah.
Waktunya tiba saat harus kembali bekerja, ternyata aku bayi tidak mau minum susu formula dari dpt bayi. Malam pertama ibuku bekerja shift malam, aku bayi menangis sepanjang malam, bapakku muda tertunya saja bingung dibuatnya dan memutuskan untuk menjemput ibuku muda untuk pulang dari pabrik. Mendengar hal itu, tanpa berpikir panjang ibuku meminta ijin pada atasannya untuk pulang karena bayinya tidak mau minum susu formula, dan hanya mau minum asi dari ibu kandungnya.
Kembali sebuah pengorbanan dilakukan oleh pahlawanku seutuhnya yakni rela resign dari pekerjaannya (menurunkan egonya) untuk menjadi ibu rumah tangga yang seutuhnya.
Part 2 lanjut besok yaa...
Bandung, 13 Juni 2022
ti2s_mratri
Perjuangan seorang ibu tak akan pernah mampu dibayar anak. Sehat selalu untuk ibunya Bu Titus.
BalasHapusAmin.. terima kasih bunda.. Terima kasih juga sudah berkunjung
Hapus