Dokter berlalu setelah memeriksa kondisi Ibu dan beralih ke pasien lainya. Kini di punggung tangan kanan ibu sudah terpasang infus. Ibu nampak kebingungan dengan kondisi yang dialaminya sekarang. Tatapan nya kosong, sepertinya ingin sekali bicara denganku, tapi lidahnya kaku dan artikulasi pembicaraannya semakin tidak jelas. Beliau hanya bisa menghela nafas panjang, "hehh..." Katanya saat beliau mulai emosi karena kesulitan untuk bicara.
Aku sengaja mengajak beliau terus mengobrol bahkan dibumbui dengan nada candaan untuk menghibur beliau (padahal di hati bertolak belakang). Tak lama berselang, perawat datang membawa obat untuk ibuku, ada obat yg disuntikkan melalui infus, dan ada obat oral yang langsung diminum, uniknya obat ini harus diletakkan di bawah lidah. (Jujur saat itu aku tidak tahu obat apakah itu?)
Selang 15 menit kemudian, pengeras suara di ruang IGD berbunyi memberi kabar bahwa salah satu keluarga pasien atas nama ibu harus segera menemui dokter jaga malam itu. Aku bergegas keluar dari ruangan IGD dan mendekat ke meja dokter jaga. Dokter jaga pun menerangkan berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan, dokter mendiagnosis bahwa ibu telah mengalami serangan stroke. Ibu harus dirawat di rumah sakit untuk perawatan lebih intensif.
Tanpa pikir panjang aku segera menyetujui rekomendasi yang dokter berikan dengan membubuhkan tanda tangan pada selembar kertas perijinan keluarga pasien serta mengurus administrasi untuk pelayanan rawat inap rumah sakit.
Sambil menunggu masuk ruang inap rumah sakit, kami menunggu di ruang transit IGD malam itu kira-kira hampir 4 jam. Selama 4 jam menunggu ada serangkaian pemeriksaan yang harus dijalani ibu. Salah satunya pemeriksaan jantung dan paru-paru.
Bed tempat ibu berbaring didorong petugas IGD ke ruang EKG. Masuk ruang EKG merupakan pengalaman pertama bagiku. (Jujur ini sangat menegangkan...)
Dokter jaga saat itu memintaku untuk melepaskan seluruh perhiasan yang menempel di badan ibu, serta melepas bagian atas pakaian Ibu sebelum memulai pemeriksaan EKG. Aku pun menyanggupinya, dan saat aku membuka pakaian bagian atas milik ibuku tak terasa air mata menetes. Rasanya campur aduk, tapi rasa sedih yang paling dominan yang kurasa. "Aku belum siap kehilangan mu ibu" ungkapku dalam hati....
Hiks.... Hiks....
Bersambung ke part 6 yaa....
Bandung, 18 Juni 2022
ti2s_mratri
Komentar
Posting Komentar