Pak suami menghentikan mobil tepat didepan IGD salah satu rumah sakit dikota kami. Aku bergegas membuka pintu mobil, kemudian masuk ke IGD, ku temui salah satu petugas jaga IGD malam itu, seraya memberitahu kalau ada ibuku didalam mobil sudah dalam keadaan lemas. Bergegas petugas IGD mengambil kursi roda untuk menjemput ibuku dalam mobil. Kulihat pak suami sudah membukakan pintu mobil dan memberi jalan keluar untuk ibuku. Ibuku turun dari mobil perlahan dibantu Bapak dan Pak suami, perlahan duduk diatas kursi roda yang sudah disediakan oleh petugas IGD.
Petugas IGD mendorong kursi roda yang membawa ibuku masuk ke ruangan IGD disusul aku dan bapakku dari belakang. Sementara pak suami masuk kedalam mobil dan memarkirkan mobil ke tempat yang seharusnya. Sedangkan anak-anak memilih untuk tetap di dalam mobil ditemani Pak Suami.
Malam itu ternyata ruang IGD rumah sakit ternyata penuh, aku bergegas melakukan pendaftaran pasien atas nama ibuku. Bapakku sebagai suami siaga tetap disamping ibuku yang tampak duduk lemasdi atas kursi roda dan menahan rasa sakit di kepalanya. Karena bed di IGD penuh terisi pasien dengan segala keluhan masing-masing, sementara Ibu duduk kursi roda sambil menunggu antrian. Aku bersyukur ibuku kuat, masih dalam keadaan sadar hanya saja beliau menutup matanya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya.
Setelah aku selesaikan semua administrasi pendaftaran pasien, aku dekati ibuku dan menanyakan keadaan serta apa yang beliau rasakan saat ini. Beliau hanya berkata pusing dan lemas itu saja. Aku usap lengan kanan ibuku untuk menguatkan beliau sebagai tanda kami ada bersama beliau, dan akan selalu ada buat beliau.
30 menit berlalu, puji nama Tuhan akhirnya ada bed, ibuku dipapah pertugas IGD dan bapak berbaring di bed pasien. Tak lama dokter jaga malam itu menghampiri dan mengecek tekanan darah ibuku, hasilnya 180/110, dokter berkata "wah, tinggi sekali ya Bu", disambung dengan pertanyaan lain tentang apa yang dirasakan ibuku saat ini. Suara yang dikeluarkan ibuku makin tidak jelas artikulasinya, bahkan kini ibu mulai kebingungan menjawab identitas dirinya sendiri, beliau hanya menatapku tanda beliau sangat kebingungan dengan pertanyaan dokter.
Dokter menyuruh ibu untuk mengangkat tangan kanan, tapi ibu malah mengangkat kedua tangannya, tampak beliau kebingungan sambil menatapku, dokter melanjutkan coba angkat kaki kanan Bu, ibuku juga bingung kanan dan kiri, beliau angkat kedua kakinya. Aku melihat dokter hanya mengangguk sambil memandang ke arah suster yang mendampingi beliau memeriksa ibuku. Dokter kemudian memeriksa lidah ibuku, dan beliau kembali mengangguk. (Jujur saat itu aku tak tau apa arti anggukannya).
Dokter berlalu, dan beralih ke pasien lain...
Ibuku semakin tidak jelas artikulasinya, lidah nya mulai menggulung, seperti tertarik kedalam. Beliau seperti ingin bicara sesuatu tapi lagi-lagi beliau kesulitan dan hanya menghela nafas panjang "hehh..."
Apa yang terjadi dengan ibu???
Tunggu kelanjutannya di tantangan hari ke-8 yaa....
Bandung, 17 Mei 2022
ti2s_mratri
Komentar
Posting Komentar