Malam kian menjelang, setelah neng geulis muntah-muntah hebat, neng geulis kini terlihat sangat melemah. Perawat IGD segera memberikan infus pada lengan kecil neng geulis. Tak lupa ada bantalan kesil untuk menyangga infus yang dipasang dilengan kiri neng geulis. Saat jarum suntik untuk infus neng geulis menangis lirih, aku tak kuasa melihatnya. Tapi harus aku tahan, aku harus kuat, aku hanya sendiri bersama neng geulis, aku ingat kakak menunggu di luar bersama pak security. Aku harus kuat...! aku pasti bisa...!
Tak lama berselang dokter IGD datang, beliau memeriksa kondisi neng geulis saat ini. Setelah mengecek semuanya, akhirnya dokter memutuskan bahwa neng geulis harus di opname di rumah sakit untuk observasi lebih lanjut. Tanpa berpikir panjang, aku menjawabnya baik dokter, saya sebagai ibunya ingin yang terbaik untuk anak saya. Dokter pun menjawab "bagus Bu, tolong salah satu keluarga untuk mengurus rawat inap putri ibu ya" tegasnya. Aku pun menjawab "saya hanya sendiri dok, biar saya yang urus sendiri, gpp neng geulis saya gendong, saya ijin utk mendorong tiang infus ke ruangan administrasi rawat inap". Dokter pun mengangguk tanda setuju.
Sebelum menuju ruangan administrasi rawat inap aku ingat kakak sendiri diluar sana menunggu kami, aku cari ponsel didalam tas. Aku tekan nomer telepon orang tuaku dan mengabarkan kalau kami sedang di rumah sakit, Kakak sendiri di luar ruangan IGD dan mohon agar Bapak (kakeknya anak-anak) menjemput kakak di rumah sakit. Mendengar penjelasanku, Bapak dan Ibu tentu saja kaget luar biasa, mereka pun segera bergegas menyusul ke rumah sakit dengan menaiki sepeda motor. Sambil menunggu kakeknya datang aku telepon kakak menguatkannya agar bersabar di luar sana, akan ada kakeknya yang menjemput untuk pulang. Kakak memang kakak siaga, ia berkata "ga apa-apa koq Ma, kakak ga takut. Kakak nunggu mama dan adek disini".
Setelah memastikan kakak baik-baik saja, aku kuatkan langkah menggendong neng geulis sambil mendorong tiang infus yang terhubung pad lengan kiri neng geulis. Puji nama Tuhan semua administrasi rawat inap neng geulis aku selesaikan dengan baik. Hingga orang tuaku sampai rumah sakit untuk memastikan kondisi kami bertiga baik-baik saja. Bapak masuk ke ruang IGD mencari keberadaan neng geulis dan aku. Sedangkan Ibu menemani kakak di ruang tunggu IGD.
Melihat kakek kesayangannya datang, neng geulis mengulurkan kedua tangannya tanda ia ingin digendong. Bapak segera menghampiri dan memeluknya erat, sembari duduk diatas bed rumah sakit. Selang 5 menit kemudian, ku ijin pada neng geulis untuk melihat kakaknya diluar sana. Neng geulis pun mengangguk dan mengijinkan aku untuk keluar sebentar melihat keadaan kakaknya diluar sana, karena saat ini sudah ada kakek kesayangan menemaninya.
Aku segera buka pintu IGD, ku layangkan pandangan ku ke sekitar, aku cari keberadaan kakak dan Ibuku. Ternyata mereka ada di sudut sana, aku bergegas menghampiri mereka. Ku peluk kakak dan tak lupa aku ucapkan terima kasih pada Ibuku di tengah kondisi kesehatannya yang kurang stabil beliau menyempatkan diri ke rumah sakit. Aku meminta kakak dan Ibu untuk pulang, kondisi mereka berdua lama-lama di rumah sakit dicampur dengan dinginnya suasana malam sangat tidak baik untuk kesehatan mereka berdua. Mereka pun menyetujuinya namun Ibu memintaku agar bapak tetap disini menemaniku sampai suamiku datang dari luar kota. Aku pun menyetujuinya.
Ibu dan kakak pulang dengan menggunakan taksi online. Aku segera balik kanan, dan segera kembali ke ruang IGD untuk mengecek keadaan neng geulis saat ini. Puji nama Tuhan neng geulis sekarang sudah tertidur di pangkuan kakeknya, aku dan kakeknya dengan hati-hati membaringkannya di bed rumah sakit agar tidak membangunkannya.
Sementara itu hujan besar melanda ibu kota Jakarta dan banjir dimana-mana, pak suami mendengar neng geulis harus di opname di rumah sakit, pak suami memutuskan untuk pulang ke kota Bandung malam itu juga. Namun perjalanan pak suami pulang tak semudah yang dibayangkan.
Lanjut ke Part 3 yaa...
Bandung, 24 Juni 2022
ti2s_mratri

Komentar
Posting Komentar