Sudah beberapa hari ini neng geulis demam. Awalnya aku pikir hanya demam biasa pada anak-anak balita. Sudah kubawa ke klinik terdekat, namun demam tak kunjung turun. Suhu badan neng geulis naik turun membuatku sebagai seorang Ibu diliputi kegelisahan. Terlebih pak suami tak ada di sampingku, beliau sedang menunaikan tugasnya di luar kota.
Sabtu sore kusentuh kepala neng geulis, untuk mengecek suhu badannya secara manual. Betapa kagetnya aku ternyata neng geulis demam lagi. Ini hari ke-5 neng geulis demam, aku meminta anak sulung ku mengambil alat pengukur suhu tubuh di dalam almari, untuk memastikan suhu tubuh si geulis.
Setelah di cek benar saja, alat pengukur suhu tubuh menunjukkan angka 37,8°C. Aku putuskan untuk bergegas mandi sambil menunggu kemungkinan suhu tubuh neng geulis turun dan kembali ke angka normal. Selama aku membersihkan badan, anak sulungku yang memiliki panggilan sayang kakak aku tugaskan mendampingi si geulis yang sedang berbaring di kamar.
Setelah aku selesai membersihkan badan, aku bergegas menghampiri neng geulis dikamar, kembali aku cek suhu tubuhnya, ternyata suhu tubuhnya semakin naik menjadi 38,5°C. Aku semakin gelisah, ku ambil ponselku untuk mengabarkan kondisi neng geulis terkini pada pak suami. Pak suami mencoba menenangkan di sebrang telepon agar aku tidak panik. Aku pun mengikuti saran Pak suami agar tenang dan tetap mendampingi neng geulis.
Selang 30 menit kemudian, aku beranikan diri untuk mengukur suhu tubuh neng geulis, tercatat 39,5°C. Pikiranku semakin tak menentu, kucari aplikasi taksi online dan bergegas menyiapkan baju ganti untuk neng geulis ke rumah sakit.
Waktu menunjukkan pukul 19.00 taksi online tiba di depan rumah. Aku kunci pintu sambil ku gendong neng geulis menggunakan kain jarik. Tak lupa memastikan barang-barang yang dibutuhkan dibawa dalam tas. Kakak yang saat itu masih kelas 4 SD menjadi kakak siaga untuk adiknya.
Kami bertiga masuk kedalam taksi online, dan menuju salah satu rumah sakit terdekat di kota kami. Entah mengapa firasatku sebagai seorang Ibu berbicara kalau neng geulis harus segera di bawa ke rumah sakit malam ini. Pak suami yang saat itu ada diluar kota tetap memantau kami dari jauh.
Sesampainya di depan rumah sakit yang dituju, hujan besar menyambut kami. Saat itu poli anak sudah tutup, berbekal informasi dari petugas rumah sakit, aku langsung mendaftarkan neng geulis ke IGD. Tak lupa ku titipkan kakak pada security rumah sakit, karena tak ada keluarga lain yang mendampingi. Kakak memang anak yang luar biasa yang mengerti keadaan malam itu, dia menuruti nasihatku untuk menunggu didepan IGD bersama security, dan aku masuk sendiri sambil menggendong neng geulis.
Awal masuk IGD rumah sakit, neng geulis tertidur nyaman dalam gendongan Jaritku, namun suhu tubuhnya kurasakan semakin tinggi, badannya pun semakin melemah. Dan tiba-tiba neng geulis muntah-muntah hebat di ruang IGD membuat pakaian ku basah, penuh bekas muntahan neng geulis, suhu tubuhnya kini mencapai 39,5°C.
Ada apa dengan neng geulis? Neng geulis sakit apa?
Bersambung ke episode 2 yaa...
Bandung, 23 Juni 2022
ti2s_mratri
Komentar
Posting Komentar