Aku benar-benar takut...
Dan ternyata suara ketukan kaca mobil itu membangunkan aku dari tidur lelapku di jok bagian depan. Tak lama berselang Pak suami sudah ada di sebrang pintu mobil kemudian masuk dan menarik gas mobil untuk meninggalkan rumah sakit.
Setelah membayar parkir mobil, aku sempatkan menanyakan kondisi terakhir ibu, suamiku hanya menjawab Ibu masih tidur, bapak sudah makan juga. Malam ini Bapak tidur di kursi, besok pagi kita kesini lagi bawa perlengkapan ibu dan bapak, jangan lupa bawa jaket, bantal, dan karpet sautnya singkat. Aku hanya diam dan mengangguk tanda setuju.
Kubuka ponselku, ternyata sudah ada lebih dari 10 panggilan tak terjawab. Adik semata wayangku yang tinggal di luar kota menelepon, pastinya ingin tahu tentang kondisi terakhir Ibu saat ini. Aku pun segera menekan nomer adikku. Diseberang telepon ku dengar adikku setengah menangis seraya menanyakan kabar Ibuku. Aku berusaha menenangkannya bahwa saat ini Ibu sudah jauh lebih baik, Ibu sudah masuk kamar rawat inap, dan besok aku kembali ke rumah sakit untuk mengecek kondisi ibu kembali sembari membawa perlengkapan yang dibutuhkan Ibu dan Bapak selama di rumah sakit. Adikku pun akhirnya bisa lebih tenang dan kami pun mengakhiri percakapan via telepon, dan tak lama kami sampai di depan rumah. Aku bergegas turun dari mobil, membukakan pagar dan pintu untuk pak suami dan anak-anak. Karena tenaga yang sudah mulai melemah setelah bersih-bersih badan kami langsung terlelap tidur hingga pagi menjelang.
Bangun dari tidur, aku seperti biasanya menjalankan ibadah di pagi hari, bergegas ke dapur mengolah makanan untuk kami sarapan. Setelah sarapan siap, aku bangunkan pak suami dan anak-anak untuk segera bersiap dan sarapan karena kami harus segera kembali ke rumah sakit. Aku sangat bersyukur kedua buah hatiku tergolong anak-anak yang tidak manja. Mereka patuh dan taat, tahu kondisi neneknya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Setelah semuanya beres barulah kami mengunci pintu dan pagar, tak lupa membawa kunci cadangan rumah orang tuaku, dan mampir sebentar kesana mengambil segala keperluan ibu dan bapak selama di rumah sakit.
Singkat cerita, Ibu dirawat di rumah sakit tersebut sekitar 7 hari dengan diagnosis dokter stroke ringan pada memory Ibu. Tapi Puji Tuhan seiring berjalannya waktu, dengan pengobatan rawat jalan selama 1 dan terapi yang dilakukan, Ibu bisa kembali pulih seperti sediakala. Kami pun akhirnya memutuskan untuk tidak lagi mengijinkan Ibu berjualan di pasar tetapi belajar untuk mensyukuri apapun dari hasil pensiunan yayasan Bapak. Yakin semua akan Tuhan sediakan, selama kita bersandar sepenuhnya pada Tuhan. Dan puji Tuhan kami bisa menyakinkan Ibu untuk berhenti berjualan di pasar mengingat kondisi Ibu yang sudah tidak se fit dulu.
Kembali Ibuku memang pahlawanku seutuhnya, beliau mampu menurunkan ego nya kembali dan bersedia melepaskan jongko di pasar yang telah beliau rintis belasan tahun agar lebih bisa menikmati hari tua bersama orang yang paling dicintainya (Bapak). Sungguh.. lagi... sebuah pengorbanan yang luar biasa yang ibu berikan buat keluarganya tercinta.
Bandung, 20 Juni 2022
ti2s_mratri
Komentar
Posting Komentar