Air mataku yang sempat menetes segera ku usap agar tak terlihat oleh Ibu. Aku berusaha menguatkan hati untuk tidak bersedih hati di depannya. Aku harus kuat, saat ini Ibu butuh aliran energi positif agar ibu dapat melewati semuanya.
Sementara petugas diruang EKG memeriksa ibu, aku hanya bisa berdoa, Tuhan kuatkan Ibuku, aku ingin ibu sehat kembali, sebenarnya badanku juga serasa ikut sakit melihat ibu seperti ini. Ingin rasanya menangis sekencang-kencangnya, tapi aku harus kuat. Ibu pasti sehat kembali itu yang aku tanamkan dalam hati dan pikiranku.
Waktu berlalu terasa sangat lamban, akhirnya semua pemeriksaan beres dilakukan, akhirnya Ibu kembali ke ruangan transit IGD untuk beristirahat sebelum masuk ke ruang rawat inap. Seorang perawat IGD kembali memeriksa tekanan darah ibuku, beliau hanya menyampaikan beberapa patah kata, salah satunya "masih tinggi ya Bu..! Ibu istirahat dulu disini ya sambil menunggu kamar inap disiapkan". Ibu hanya mengangguk tanda beliau mengerti apa yang dibicarakan perawat tersebut.
Malam kian menjelang, diluar hujan sangat besar. Pak suami, anak- anak, dan bapak terperangkap di dalam mobil. Tinggallah aku dan ibu berdua. Aku mencoba menghibur Ibu dengan obrolan santai seraya menguatkan beliau kalau beliau pasti bisa sembuh dan pulih seperti sediakala. Untaian doa terus aku panjatkan agar Ibu kembali sehat dan dapat beraktifitas seperti biasanya.
Sekitar pukul 23.00 seorang perawat memberitahukan bahwa kamar rawat inap untuk Ibu sudah siap, dan Ibu akan beristirahat disana malam ini. Aku segera mempersiapkan segala sesuatunya, aku tenteng tas ibuku, dan mengawal bed Ibu dari belakang. Barulah setelah sampai kamar rawat inap yang dituju aku telepon bapak untuk segera menemui kami di ruang kamar inap. Puji Tuhan saat itu hujan sudah mulai reda.
Bapak tiba dikamar rawat inap, setelah memastikan semuanya dalam keadaan baik, Bapak menyuruhku untuk pulang ke rumah, biarlah Bapak yang menemani Ibu malam ini di rumah sakit. "Ibu sudah mendapatkan perawatan terbaik, mending kamu pulang sekarang, istirahat, kasihan anak-anak dari tadi di dalam mobil. Besok kamu kesini lagi" saut Bapak. Pikiranku melayang, akhirnya aku teringat 2 buah hatiku bersama Pak suami menunggu diparkiran sedarti tadi magrib, dan ini sudah tengah malam, mereka pun belum makan malam.
Akhirnya aku segera berpamitan pada Bapak, untuk pulang dulu kerumah, dan berjanji esok pagi akan kembali dengan membawa perlengkapan lain yang dibutuhkan oleh Ibu dan Bapak yang menunggu di rumah sakit.
Kulihat Ibu sudah tertidur, aku tak kuasa membangunkannya, mungkin juga karena efek obat yang dimasukkan dalam infus di tangan ibu.
Langkah kaki aku percepat, karena sudah hampir pukul 24.00 masuk lift rumah sakit sendiri itu sesuatu banget rasanya, apalagi dingin dan sepinya malam itu semakin membuat bulu kudukku berdiri. Keluar dari lift, aku segera menuju pintu keluar rah sakit dan segera berlari kecil menghampiri mobil kami. Pak suami membukakan pintu mobil dan menanyakan bagaimana keadaan Ibu. Aku menjawabnya singkat, Ibu dirawat malam ini, Bapak yang tunggu di rumah sakit malam ini. Kita disuruh pulang, kasihan anak-anak. Aku segera mencari keberadaan dua buah hatiku di dalam mobil, ternyata kedua buah hatiku sudah tertidur pulas di jok mobil bagian belakang.
Dipinggir rumah sakit, sempat kulirik pedagang nasi goreng, aku bergegas membelinya untuk Bapak, karena aku tahu Bapak belum makan malam. Setelah nasi goreng siap, pak suami yang mengantarkan nasi goreng dan jaket untuk Bapakku ke ruang rawat inap Ibu sekalian berpamitan dan memastikan Ibu dan Bapakku dalam keadaan baik juga. Sedangkan aku tetap di dalam mobil untuk meluruskan pinggang sesaat sambil menjaga kedua buah hatiku yang masih terlelap tertidur.
20 menit berselang... kudengar 3 kali ketukan kaca mobil bagian belakang. Saat itu waktu menunjukkan pukul 00.25 WIB, entah mengapa tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku ingat bahwa jalanan dibelakang tempat mobil kami parkir itu jalan menuju kamar jenazah rumah sakit.
Oh, My God...!
Bersambung ke Part 7 yaa...
Bandung, 19 Juni 2022
ti2s_mratri
Komentar
Posting Komentar