Langsung ke konten utama

Resume Pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang 26 Pertemuan Ke-10


Tema           : Kiat Menulis Cerita Fiksi

Narasumber : Bpk. Sudomo, S.Pt.

Moderator    : Bpk. Sigid Purwo Nugroho


Pertemuan ke-10 kelas online pelatihan belajar menulis PGRI gelombang 26 mengungsung tema Kiat Menulis Cerita Fiksi, saya pun mengikuti kegiatan ini sesuai yang dijadwalkan melalui ponsel saya. Hanya saja karena kondisi badan yang kurang bersahabat, terasa sangat lelah selepas menyelesaikan pengolahan nilai Ijazah dan rapor kelas 6, maka kegiatan pembuatan resume sedikit tertunda. Saya memilih untuk istirahat setelah pertemuan ke-10 ini untuk menjaga kesehatan saya. Namun tidak mematahkan semangat saya untuk terus memimba ilmu dari orang-orang hebat di dunia pegiat literasi nusantara asuhan Om Jay tentunya.

Kegiatan kelas online dengan tema Kiat Menulis Cerita Fiksi dimulai pukul 19.00 WIB moderator kita Bpk. Sigit Purwo Nugroho guru SMP Negeri di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat menyapa kami dengan sapaan hangatnya, dilanjutkan dengan perkenalan narasumber Bpk. Sudomo, S.Pt dari Pulau Lombok, yang tentunya sudah sangat ahli di bidang penulisan cerita fiksi.

Alur kegiatan belajar malam ini agak berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya, dimana dalam pelaksanaan kegiatan mengadopsi alur belajar dari Pendidikan Guru Penggerak yang dimodifikasi sesuai kebutuhan kelas pelatihan belajar menulis PGRI.

Alur belajar malam ini adalah sebagai berikut.

1 | Mulai dari Diri

Pada alur ini, peserta menuliskan pengalaman belajar menulis cerita fiksi yang dikirim ke japri WA moderator kita malam ini Bpk. Sigid Purwo Nugroho.

2 | Eksplorasi Konsep 

Pada bagian ini, peserta pelatihan dipersilahkan untuk mencermati video pembelajaran Menulis Fiksi itu Mudah di laman https://youtu.be/dXX9RWxT_u8 sebagai dasar untuk masuk ke alur berikutnya. 

3 | Ruang Kolaborasi

Pada bagian ini, berdasarkan pemahaman peserta dari video yang telah disimak mencoba untuk berkolaborasi menulis cerita fiksi. 

Pak Sudomo, S.Pt memberi tantangan pada peserta pelatihan untuk berkolaborasi membat cerita fiksi pendek dari teks cerita pendek di bawah ini :

Silakan Bapak/Ibu lanjutkan cerita berikut ini:

"Aku tidak mau!"

Terdengar suara memecah gelapnya malam. Sesaat setelahnya menghilang. Hanya angin memenuhi pekat malam. Sepertinya aku mengenali suara itu. Itu adalah suara...

Saya pun menjawab tantangan yang beliau berikan melalui Japri WA moderator kita malam ini Bpk. Sigid Purwo Nugroho :

"Aku tidak mau!"

Terdengar suara memecah gelapnya malam. Sesaat setelahnya menghilang. Hanya angin memenuhi pekat malam. Sepertinya aku mengenali suara itu. Itu adalah suara Aliya, kembang desa Pacekelan yg tak mau dijodohkan dengan pengusaha kayu dari kota pilihan orang tua nya. Aliya menegaskan pada orang tuanya bahwa dia sudah punya pilihan hati sendiri. Aliya tak mau jadi istri kedua pengusaha kayu itu, yang pastinya akan menyakiti hati perempuan lain. Terlebih ada Haris sang pujaan hati telah mengisi relung hatinya selama ini.

Haris memang tak punya harta dunia, tapi Haris sosok calon imam yang Aliya cari selama ini yang senantiasa menjaga tutur kata dan tingkah lakunya sesuai perintah agama yang dianutnya.

(Titis Madyaning Ratri-Bandung Gel.26)


4 | Demonstrasi Kontekstual

Pada bagian ini, peserta pelatihan diajar untuk kembali mencerna materi terkait cerita fiksi. Terutama menyangkut premis. Premis adalah ringkasan cerita yang berisi tokoh, tantangan, dan resolusi.

Saya pun menyimak kembali cerita pendek yang saya buat dengan menentukan :

Tokoh : Alliya (Kembang desa Pacekelan)

Premis : ketegasan hati seorang kembang desa yang tidak mau dijodohkan oleh orang tua nya


5 | Elaborasi Pemahaman

Beberapa hal penting yang menjadi catatan bersama dalam menulis sebuah cerita fiksi.

  • Alasan harus menulis cerita fiksi selain saat ini ada AKM dengan materi teks literasi fiksi, juga dengan belajar menulis cerita fiksi kita bisa menyembunyikan dan menyembuhkan luka.
  • Bentuk cerita fiksi di antaranya, yaitu fiksimini, flash fiction, pentigraf, cerpen, dan novel. 
  • Unsur pembangun cerita fiksi meliputi tema, premis, penokohan, latar/setting, sudut pandang, dan alur/plot.
  • Kiat menulis fiksi yang utama adalah niat dan komitmen yang kuat untuk belajar, baca karya fiksi karya orang lain untuk menemukan berbagai gaya penulisan, ide cerita, dan teknik penulisan. Selanjutnya adalah ide dan genre cerita carilah yang disukai dan dikuasai. Berikutnya adalah membuat outline atau kerangka karangan agar cerita tidak melebar. Setelah itu adalah mulai menulis, melakukan swasunting setelah selesai menulis dan memublikasikannya.

6 | Koneksi Antar Materi

Pada bagian ini Bapak/Ibu bisa melengkapi keterkaitan antara materi satu dengan yang lainnya. Tujuannya adalah agar bisa mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh yang digambarkan dengan skema berikut ini.


7 | Aksi Nyata

Pada bagian ini peserta pelatihan melakukan aksi nyata hasil belajar dengan cara menulis resume pertemuan ke-10 dengan tema Kiat menulis cerita fiksi.

Intisari kegiatan tanya jawab peserta pelatihan dan narasumber yang saya simak diantaranya :

  • Poin penting dalam pemilihan genre pembuatan sebuah novel adalah disukai dan dikuasai. Selanjutnya menyesuaikan dengan tren atau pasar saat ini, dengan tidak lupa menyesuaikan dengan syarat dari penerbit, pemilihan  tema yang up to date, nama penulis novel, memperhatikan selera pasar, dan penulisan karya cerita fiksi yang dikemas dengan apik.
  • Syarat menulis cerpen di antaranya, yaitu mengandung unsur yang baik. Misalnya, alur/plot yang jelas. Dalam artian ada awal, tengah, dan akhir yang menarik. Membuka cerita dengan menarik, kemudian mengembangkan konflik dengan baik, dan menutup cerita dengan baik. 
  • Karakter tokoh dalam sebuah cerita pendek benar-benar tergambarkan dengan baik.
  • Cara efektif menemukan tema sebuah cerita adalah membacanya secara cermat. Tentukan garis besar cerita dengan menandai kejadian-kejadian penting dalam cerita. Termasuk di dalamnya adalah memahami karakter tokoh dalam cerita. 
  • Bagi calon penulis fiksi terlebih dahulu memahami konsep cerita yang akan ditulisnya. Tema rasanya lebih mudah untuk dipelajari karena bisa berasal dari diri kita sendiri atau sekitar kita.
  • Tips dan cara menulis fiksi terasa mudah dan menyenangkan adalah dengan terus mencoba memulai menulis dan menyelesaikan tulisan. Selain itu adalah dengan cara menikmati setiap tahap penulisannya sebagai sebuah proses kreatif. Hanya dengan begitu tidak akan ada lagi keterpaksaan saat menulis. Sedikit demi sedikit akan terbiasa hingga akhirnya jatuh cinta luar biasa.
  • Fungsi outline terkadang dianggap membatasi apa yang akan kita tulis. Namun, bukan berarti tidak boleh ada perubahan di tengah jalan. Bebas. Silakan. Hanya saja dengan outline yang sudah fiks sejak awal proses penulisan ada jaminan tulisan akan bisa diselesaikan. Berdasarkan pengalaman menulis tanpa membuat outline, karena keasyikan menulis akhirnya semua ingin ditulis di tengah proses menulis. Dampaknya justru tulisan semakin ke sana kemari dan akhirnya tidak selesai.
        Sebuah pengalaman baru dan tentunya ilmu baru lagi yang saya dapat melalui kelas online pelatihan belajar menulis PGRI. Terimakasih untuk Bpk. Sudomo, S.Pt sebagai narasumber dan Bpk. Sigid Purwo Nugroho sebagai moderator yang telah berbagi ilmu, semoga ilmu yang diberikan memberikan keberkahan dan manfaat bagi kita semua. Amin..

        Salam sukses, dan salam literasi
        Gusti Mberkahi

        Bandung, 9 Juni 2022
        ti2s_mratri

        Komentar

        Posting Komentar

        Postingan populer dari blog ini

        Coretanku di Pelatihan Belajar Menulis PGRI Pertemuan Ke-2

        RESUME PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI PERTEMUAN KE-2 Tema                :  Writing is My Passion Moderator    : Ibu Widya Setianingsih Narasumber  : Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd Kegiatan pelatihan belajar menulis PGRI pertemuan ke-2 seperti yang sudah diagendakan sebelumnya dimulai pukul 19.00 WIB dengan sapaan hangat dari moderator cantik Ibu Widya Setianingsih arek Malang Jawa Timur, dilanjutkan dengan perkenalan dengan narasumber yang luar biasa hebatnya, yakni Ibu Dra. Sri Sugiastuti yang sering di sapa bunda Kanjeng  yang merupakan idola dari banyak para penggiat literasi termasuk saya. suaranya yang begitu lembut dengan intonasi dan pemilihan kata yang menyejukkan hati seperti menarik saya untuk lebih dalam mengikuti setiap materi yang beliau sampaikan. Pembuka kelas malam ini diawali dengan Apa itu Passion ? Passion dalam bahasa Indonesia dapat diartikan menjadi renjana .  Berdasar pada pemaparan materi...

        Tantangan H21 : Pembelajaran Diferensiasi

        Istilah Pembelajaran Diferensiasi sebenarnya bukan hal yang baru dunia pendidikan, terlebih saat ini ketika digaungkannya kurikulum merdeka, maka istilah Pembelajaran Diferensiasi menjadi salah satu kegiatan pembelajaran yang mendukung pelaksanaan kurikulum merdeka di lapangan. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal yang nantinya akan diambil, karena pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti pembelajaran dengan memberikan perlakuan atau tindakan yang berbeda untuk setiap murid, maupun pembelajaran yang membedakan antara murid yang pintar dengan yang kurang pintar. Karakteristik pembelajaran berdiferensiasi antara lain;  1. lingkungan belajar mengundang murid untuk ...

        Tantangan H18 : Miss Nai, pendamping belajar yang menginspirasi

        Adanya pandemi covid-19 menuntut pembelajaran dilakukan secara daring dan dalam bentuk pembelajaran jarak jauh, peran orang tua sebagai pendamping belajar menjadi sangat penting bagi keberlangsungan kegiatan pembelajaran siswa. Lalu bagaimana dengan orang tua yang sibuk bekerja? Tentunya diperlukan pendamping belajar yang mumpuni di bidangnya sebagai pengganti peran orang tua dalam mendampingi putra/putrinya belajar. Sebut saja namanya Miss Nai, saya mengenalnya tidak sengaja, namun ternyata saya punya chemistry tersendiri dengannya. Sosok pendamping belajar yang luar biasa, memiliki dedikasi yang tinggi atas pekerjaannya, dan tentunya beliau mengerjakan apa yang diamanahkan padanya dengan hati yang tulus, dan ikhlas. Saat itu kelas pelatihan belajar menulis PGRI memasuki pertemuan ke-7 bersama bunda Ditta dan bunda Lely. Karena bertepatan dengan peringatan hari Pancasila ibu Narsum memberikan sebuah tantangan tentang tentang pengalaman pengamalan Pancasila dalam kehidupan ...