Langsung ke konten utama

Tantangan H2 : Analogi Bakwan


Bakwan merupakan makanan gorengan yang terbuat dari sayuran dan tepung terigu yang lazim ditemukan di Indonesia. Bakwan biasanya merujuk kepada kudapan gorengan sayur-sayuran yang biasa dijual oleh penjaja keliling. Bahannya terdiri dari taoge, irisan kubis kol) atau irisan wortel, dicampur dalam adonan tepung terigu dan di goreng menggunakan minyak goreng yang cukup banyak. Di Jawa Barat bakwan disebut bala-bala, di Jawa Tengah terutama daerah Pati disebut pia-pia, di Kota dan Kabupaten Malang disebut weci, dan di Sidoarjo dan Surabaya disebut ote-ote. Bakwan mirip dengan masakan Jepang yasai tenpura (tempura sayur). 

Bakwan sebenarnya berasal dari Tiongkok yang terlihat jelas pada kata Bak, yang berarti Daging dan Wan yang berarti bola. Pada saat terjadi perdagangan dan pertukaran budaya di Indonesia resep makanan pun saling berbaur sehingga mempengaruhi masakan tradisional saat itu. Penggunaan kata bak sendiri sampai sekarang masih digunakan meskipun bakwan tidak lagi berisi daging atau udang.

Di dalam meraih sebuah prestasi, analogi bakwan bisa kita ibaratkan dengan suka dan duka untuk mencapai sebuah prestasi. Bahan-bahan pembuatan bakwan (sayuran) bisa kita ibaratkan dengan kemampuan / potensi yang dimiliki tiap individu, (tepung dan air) diibaratkan sebagai media pemersatu setiap kemampuan / potensi yang dimiliki, (minyak) merupakan media untuk mendapatkan kudapan berupa gorengan (prestasi)  yang kriuk dan enak untuk dinikmati, begitu juga (kompor) sebagai pemanas (semangat yang membara) untuk mendapatkan hasil sesuai dengan yang harafkan. Ada kalanya saat mengoreng bakwan angin datang menghampiri dan hampir saja mamadamkan api, tapi dengan ketekunan dan tetap mempertahankan api agar tetap menyala, maka sampai waktunya tiba, ada hasil bakwan (prestasi) yang dapat kita nikmati sesuai dengan harapan dan tujuan kita. (TMR)


Bandung, 11 Juni 2022

ti2s_mratri

Sumber : Gambar koleksi pribadi dan wikipedia

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Coretanku di Pelatihan Belajar Menulis PGRI Pertemuan Ke-2

RESUME PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI PERTEMUAN KE-2 Tema                :  Writing is My Passion Moderator    : Ibu Widya Setianingsih Narasumber  : Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd Kegiatan pelatihan belajar menulis PGRI pertemuan ke-2 seperti yang sudah diagendakan sebelumnya dimulai pukul 19.00 WIB dengan sapaan hangat dari moderator cantik Ibu Widya Setianingsih arek Malang Jawa Timur, dilanjutkan dengan perkenalan dengan narasumber yang luar biasa hebatnya, yakni Ibu Dra. Sri Sugiastuti yang sering di sapa bunda Kanjeng  yang merupakan idola dari banyak para penggiat literasi termasuk saya. suaranya yang begitu lembut dengan intonasi dan pemilihan kata yang menyejukkan hati seperti menarik saya untuk lebih dalam mengikuti setiap materi yang beliau sampaikan. Pembuka kelas malam ini diawali dengan Apa itu Passion ? Passion dalam bahasa Indonesia dapat diartikan menjadi renjana .  Berdasar pada pemaparan materi...

Tantangan H21 : Pembelajaran Diferensiasi

Istilah Pembelajaran Diferensiasi sebenarnya bukan hal yang baru dunia pendidikan, terlebih saat ini ketika digaungkannya kurikulum merdeka, maka istilah Pembelajaran Diferensiasi menjadi salah satu kegiatan pembelajaran yang mendukung pelaksanaan kurikulum merdeka di lapangan. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal yang nantinya akan diambil, karena pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti pembelajaran dengan memberikan perlakuan atau tindakan yang berbeda untuk setiap murid, maupun pembelajaran yang membedakan antara murid yang pintar dengan yang kurang pintar. Karakteristik pembelajaran berdiferensiasi antara lain;  1. lingkungan belajar mengundang murid untuk ...

Tantangan H18 : Miss Nai, pendamping belajar yang menginspirasi

Adanya pandemi covid-19 menuntut pembelajaran dilakukan secara daring dan dalam bentuk pembelajaran jarak jauh, peran orang tua sebagai pendamping belajar menjadi sangat penting bagi keberlangsungan kegiatan pembelajaran siswa. Lalu bagaimana dengan orang tua yang sibuk bekerja? Tentunya diperlukan pendamping belajar yang mumpuni di bidangnya sebagai pengganti peran orang tua dalam mendampingi putra/putrinya belajar. Sebut saja namanya Miss Nai, saya mengenalnya tidak sengaja, namun ternyata saya punya chemistry tersendiri dengannya. Sosok pendamping belajar yang luar biasa, memiliki dedikasi yang tinggi atas pekerjaannya, dan tentunya beliau mengerjakan apa yang diamanahkan padanya dengan hati yang tulus, dan ikhlas. Saat itu kelas pelatihan belajar menulis PGRI memasuki pertemuan ke-7 bersama bunda Ditta dan bunda Lely. Karena bertepatan dengan peringatan hari Pancasila ibu Narsum memberikan sebuah tantangan tentang tentang pengalaman pengamalan Pancasila dalam kehidupan ...